Jumat, 05 November 2010

Akibat Merapi, Muntilan Jadi Kota Mati


 
Kota Muntilan di sisi barat gunung Merapi seperti kota mati akibat guyuran abu vulkanik, Kamis (4/11). Merapi meletus hebat pada Rabu (3/11) siang dan terus-menerus menyemburkan awan panas hingga Kamis (4/11). Para pemilik toko di Muntilan memilih menutup usahanya akibat guyuran abu vulkanik Merapi yang menyesakkan pernafasan. TEMPO/Heru CN
TEMPO Interaktif, MUNTILAN - Semuanya kena. Tak ada yang tersisa dari hujan abu. Atap rumah, jalan, ladang dan pepohonan, semua terlihat kelabu terguyur debu. Sore hari itu, Jumat (5/11), di Desa Ngadipuro Kecamatan Dukun Magelang, yang tersisa hanya gulita. “Listrik padam sejak tiga hari kemarin,” kata Wawan, seorang warga.

Rumah-rumah disana kini sepi tak berpenghuni. Warganya telah mengungsi sejak semalam, saat Merapi kembali memuntahkan awan panasnya berkali-kali. Terletak di jarak 12 kilometer dengan puncak Merapi, Desa itu kini telah sepi.


Sebelumnya, di Desa itu terdapat barak pengungsi. Namun sejak Kamis (4/11) malam kemarin, mereka mulai dievakuasi. Dampak bencana letusan Merapi memang meluas di Magelang. Dari awalnya hanya daerah dalam radius 15 kilometer dari Merapi kini meluas menjadi 20 Kilometer. Akibatnya para pengungsi pun takut terkena bahaya bencana.


Tak hanya Ngadipuro, hampir semua desa di lereng Merapi kini pun sepi. Tak ada penghuni lagi. Takut terkena bahaya Merapi, mereka mengungsi ke tempat yang lebih rendah. Akibatnya, desa-desa itu pun seperti kota mati. Rumah tak berpenghuni, listrik padam dan pohon bertumbangan di sepanjang jalan menjadi pemandangan sehari-hari.


Kondisi itu diperparah dengan sisa abu yang menumpuk tebal di ruas jalan. Akibat terguyur air hujan, jalanan pun menjadi banjir lumpur. Kondisi itu kian mempersulit mobilitas warga di daerah bencana. Di Muntilan misalnya, aktifitas perekonomian pun lumpuh. “Sampai sekarang pun listrik masih mati,” kata Devi (25) seorang warga Muntilan, malam ini.


Di kota kecil yang menjadi pusat perekonomian Kabupaten Magelang itu, sebagian sekolah diliburkan tadi siang. Demikian pula bank yang berhenti beroperasi. Adapun hingga malam ini, pasar tradisional, toko dan perkantoran masih tutup. “Gelap dimana-mana,” kata dia.


Di jalan-jalan, kendaraan bermotor lambat melaju. Lumpur sisa debu merapi bercampur air hujan, membuat jalan becek dan licin. Terlebih kendaraan roda dua, hanya melaju dalam kecepatan tak lebih dari 20 kilometer per jam. Mereka takut terpeleset dan terpelanting dari atas motornya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar